-->

6/23/2011

Bebin, Sudah "Ngolong" Sejak Umur 10 Tahun

Dunia otomotif bukan hanya sekedar pekerjaan bagi seorang Bebin Djuana, tetapi telah menjadi passion baginya. Kini ia menjabat sebagai Marketing Vice President PT Hyundai Mobil Indonesia. Suatu jabatan yang baru disandangnya selama tiga bulan.

Sebelumnya, Bebin, yang merupakan lulusan Teknik Mesin Universitas Trisakti dengan kekhususan manajemen industri pada tahun 1984, telah puluhan tahun malang-melintang di PT Suzuki Indomobil Motor. Intinya tetap sama, dunia otomotif!

Bagaimana ia memulai perjalanan karirnya di bidang ini? Ia mengaku awalnya, selagi masih kuliah, sempat bekerja di perusahaan Uber Sakti, yang merupakan kontraktor alat-alat berat di daerah Cakung, Jakarta. "Kebetulan ada waktu luangnya ya, dua bulan kosong gitu. Saya diajak oleh temannya ayahnya saya. Itu karena dia tahu saya orangnya nggak bisa diam dan senang turun tangan sendiri. Di workshopnya alat-alat berat dari jasa Uber Sakti ini, saya dijanjikan kalau sudah selesai kuliah gabung saja sama kita," ujar Bebin kepada Kompas.com, Rabu (15/6/2011).

Di perusahaan itu, ia menjabat sebagai pimpinan workshop. Setelah bergumul dengan alat-alat berat tersebut, ia kemudian diajak temannya untuk bekerja di pabrik karton (box) Sinar Apriasi dari Grup Panggung Elektronik, di Tangerang.

Tidak lama kemudian, ia kembali di ajak temannya untuk bergabung di Mahakam Group, yang bergerak di sejumlah bidang usaha, diantaranya pembuatan genteng beton, pabrik kecap, farmasi, hingga mesin laundry. "Kantor sih enak dekat di Jalan Johar, dari rumah dekat. Tapi tempat kerjanya yang jauh-jauh. Karena dia, Dr. Chandra (pemilik usaha Mahakam) ini diversifikasi bisnisnya luas," tuturnya.

Ia pun mengaku idealismenya masih tinggi untuk bekerja di bidang teknis pada awal karirnya. "Saya lulusan Insiyur Mesin, saya mau berkecimpung di dunia itu," sebutnya, yang sempat mengurusi mesin-mesin laundry yang dinilainya cukup rumit, saat bekerja di Mahakam.
Ketika pekerjaan itu Anda jiwai, Anda nggak akan ingat waktu, nggak ingat gaji, nggak ingat apa-apa.
-- Bebin
Idealisme ini memang menghasilkan kondisi yang berbeda dengan teman-temannya yang bekerja di bagian penjualan dan pemasaran. Mereka disebutnya, sudah bisa mencicil rumah. Sementara Bebin terus sibuk bekerja tanpa mengenal waktu, karena sifat kerjanya yang teknis. Saat itu, ia pun berjibaku dengan kondisi tempat kerja yang cukup jauh dari rumahnya di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, ke Tangerang. Bahkan ia juga menyempatkan untuk menjemput sang istri ke tempat kerjanya di daerah Kota, Jakarta. "Ya itu, perjuangan hidupnya, seperti itulah," tuturnya.
Mulai dari motor ketika bekerja di Cakung, akhirnya ia pun mendapatkan mobil kijang pick-up sebagai kendaraan operasional kantor. Nah, ketika bekerja di Tangerang, ia sudah bisa membeli mobil sendiri sekalipun bekas. Sebenarnya, ia juga diberikan fasilitas mobil beserta supirnya ketika bekerja di tempat tersebut.
Perbedaan kesejahteraan yang didapatnya dengan teman-temannya dengan pekerjaan pemasaran tersebut, menuntunnya untuk melanjutkan studi di bidang pemasaran. "Masuklah saya sekolah malam, waktu itu namanya European-Indonesia Institut. Sekarang namanya (Indonusa) Esa Unggul," sebutnya.
Studinya tersebut ia bayar sendiri dari tabungannya. Di sekolah tersebutlah, awal dari karirnya di dunia otomotif, yang dimulai dengan bekerja di PT Suzuki Indomobil Motor. Ia bertemu dengan Barry Lesmana, Marketing Directornya Suzuki saat itu.
Waktu itu ia mengkritik mobil milik Barry."Saya nyetirin mobil dia, karena mau belajar bareng. Saya kritik , dia kaget karena saya ngerti mobil. Saya bilang karena sebelum umur 10 tahun sudah masuk kolong mobil," ujarnya. Memang, lanjut dia, setiap ada montir di rumah, ia selalu mengikut bongkar.
Barry mengajak Bebin bergabung ke Suzuki. Akhirnya, Mei 1990, ia pun luluh dengan ajakan dari Barry.  Bebin dipertemukan dengan Angky Camaro dan Subronto Laras. Kedua orang ini merupakan temannya dalam berdiskusi. "Dua orang inilah guru saya," sebutnya.
Selama 20 tahun, ia berkarir di perusahaan otomotif asal Jepang tersebut. Dalam memulai karirnya ini, ia rela untuk memulai dari awal di bagian marketing sebagai asisten manajer, tetapi merangkap di bagian sport otomotif. Ia pun pernah bekerja selama setahun di bagian servis. "Tahun 2000-an, saya dipindahkan ke bagian sparepart, khusus untuk menangani aksesoris," tambahnya, di mana saat itu aksesoris dijadikan sebagai profit center.
Ia mengaku selama bekerja dua dekade di perusahaan tersebut, ia seperti bermain, bukan bekerja. Hal yang sangat ia sesalkan yaitu ia lupa membuat dokumentasi berapa puluh varian mobil Suzuki yang sudah dibuatnya selama kurun waktu tersebut. "Ketika pekerjaan itu Anda jiwai, (Anda) nggak akan ingat waktu, nggak ingat gaji, nggak ingat apa-apa," ungkapnya sebagai alasan dari betahnya ia bekerja di Suzuki.
Konsentrasinya hanya satu, lanjut dia, yaitu bagaimana mengangkat nama Suzuki. Mengenai varian tersebut, ia pun bercerita bagaimana ia mengubah Suzuki Vitara 4x4 menjadi 4x2. Saat itu, ia meminta ijin dari Angky untuk merubahnya. "Saya membuat master list. Jadi barang apa saja yang nggak dipakai, dan barang apa saja yang harus dibuat," tuturnya.
Hasilnya, ia dan tim pun berhasil membuatnya. Menurutnya, itulah salah satu kebanggaan baginya. Ia pun akhirnya memimpin bagian ekspor sebelum pensiun dari Suzuki.
Hyundai tantangan
Kenapa akhirnya pindah ke Hyundai? Pada saat itu, ia memang menyebutkan sudah ingin keluar. Tetapi pilihan pada Hyundai, perusahaan yang memiliki posisi nomor empat di pasar otomotif dunia, ia mengaku melihatnya sebagai sebuah tantangan. "Siapa sih yang kenal Hyundai? Orang lebih kenal Atoz, daripada Hyundai. Nah, bagi saya ini sebuah tantangan," ujarnya.
Kembali pada target yang sama ia buat di Suzuki, yaitu bagaimana membesarkan nama Hyundai. Untuk hal tersebut, ia mengaku bukan pekerjaan yang mudah. "Gila kamu, Bin. Umur (53 tahun) segini mau tantangan lagi," sebutnya mengenai tanggapan dari teman-temannya ketika ingin memulai bekerja di Hyundai.
Ia pun berujar, suatu hari Hyundai Indonesia akan jadi besar. Sekalipun berada di bidang yang sama, kedua perusahaan ini pun memiliki kultur yang berbeda, karena berasal dari negara yang berbeda. Namun, ia menuturkan, kondisi awal ia bekerja di Suzuki ada kemiripan dengan kondisi Hyundai saat ini. "Di mana sebetulnya perusahaan ini memiliki kemampuan untuk bermanuver lebih cepat," ungkapnya.
Menurutnya, saat perusahaan semakin besar, justru kemampuan bermanuver perusahaan tersebut semakin lamban. Hal itu disebabkan antara lain, akan semakin banyaknya pertimbangan yang diperlukan dalam membuat suatu keputusan.
Untuk menempuh segala hal dalam karirnya dari dulu hingga saat ini, ia berujar keterbukaan dan berani melakukan dan mengakui kesalahan menjadi prinsip hidupnya. "Belajarlah dari situ (kesalahan). Karena ada peribahasa yang mengatakan, keledai pun tidak akan menabrak tiang yang sama dua kali," sebutnya.
Mengenai rencana dan target yang akan dilakukannya di Hyundai, ia belum banyak bisa memberikan detil karena masih beberapa bulan berada di perusahaan ini. Ia hanya berharap Hyundai Indonesia dapat masuk dalam sepuluh besar perusahaan otomotif Indonesia, karena saat ini baru menempati posisi ke-13 atau 14. "(Bahkan) ambisi saya suatu hari nanti, Hyundai dapat masuk di lima besar di Indonesia," ungkapnya.
Selain peringkat tersebut, ia juga berkeinginan untuk membangun brand image perusahaan asal Korea tersebut. "Kemudian, bagaimana dapat meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa Hyundai bukan lagi produk kelas dua," sebutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...